Ekonomi Bisnis,- Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tidak lagi hanya berlangsung di dunia digital. Teknologi tersebut mulai dipadukan dengan robot yang memiliki bentuk menyerupai manusia atau humanoid robot. Robot humanoid generasi terbaru tidak sekadar mampu berjalan dan melakukan gerakan sederhana. Sejumlah produk sudah dapat berinteraksi dengan lingkungan, membawa benda, melakukan gerakan kompleks, hingga menjalankan tugas tertentu berdasarkan perintah manusia. Kondisi tersebut membuat industri robot humanoid berkembang semakin cepat. Perusahaan teknologi dari China, Amerika Serikat, hingga berbagai negara lain berlomba menciptakan robot yang semakin pintar, fleksibel, sekaligus murah. Salah satu nama yang paling banyak mendapat perhatian adalah Unitree Robotics. Perusahaan asal China tersebut dikenal karena mengembangkan robot berkaki empat dan robot humanoid dengan harga yang relatif lebih terjangkau dibandingkan sejumlah pesaingnya. Data terbaru menunjukkan bahwa pasar robot humanoid memang mulai memasuki fase komersialisasi. Namun, pertanyaan besar masih muncul: apakah robot-robot tersebut benar-benar sudah siap menggantikan manusia dalam dunia kerja? Harga robot humanoid mulai turun Salah satu faktor yang membuat robot humanoid semakin menarik adalah harga yang perlahan menjadi lebih terjangkau. Unitree, misalnya, saat ini mencantumkan robot humanoid G1 dengan harga mulai US$13.500 atau sekitar Rp220 juta-Rp240 juta, tergantung kurs. Harga tersebut belum termasuk pajak dan biaya pengiriman. Unitree juga menjual R1 dengan harga mulai US$4.900 atau sekitar Rp80 jutaan. Dalam katalog resminya, Unitree juga mencantumkan R1-D mulai US$4.290. Sementara itu, model H2 dibanderol mulai US$29.900 dan H2 Plus mencapai US$100.000. Angka tersebut menunjukkan adanya rentang harga yang sangat lebar. Robot humanoid tidak lagi selalu identik dengan mesin berharga jutaan dolar. Model yang lebih sederhana kini mulai ditawarkan dengan harga yang mendekati harga sebuah kendaraan. Bahkan, beberapa robot yang ditujukan untuk pendidikan, riset, pengembangan software, maupun kebutuhan demonstrasi dapat dibeli dengan harga lebih rendah. Perkembangan ini menjadi penting karena harga merupakan salah satu faktor utama yang menentukan apakah robot humanoid dapat digunakan secara luas di masyarakat. Unitree bukan satu-satunya pemain Persaingan industri robot humanoid kini semakin ramai. Selain Unitree, terdapat perusahaan seperti Booster, AgiBot, Kepler, Tesla, hingga sejumlah perusahaan robotika lainnya. Masing-masing memiliki pendekatan berbeda. Sebagian perusahaan fokus pada kebutuhan industri, seperti mengangkut barang dan membantu pekerjaan di pabrik. Ada pula yang mengembangkan robot untuk penelitian, pendidikan, pelayanan, hiburan, hingga penggunaan di lingkungan rumah. Tesla menjadi salah satu perusahaan yang paling banyak diperbincangkan melalui proyek Optimus. Robot humanoid Tesla tersebut dikembangkan dengan visi untuk menjalankan pekerjaan yang dianggap berbahaya, berulang, atau kurang menarik bagi manusia. Tesla juga membayangkan penggunaan robot untuk kebutuhan pabrik hingga rumah tangga. Namun, berbeda dengan Unitree yang sudah mencantumkan harga sejumlah produknya secara terbuka, harga jual komersial Optimus belum menjadi produk konsumen massal dengan harga resmi yang dapat dibandingkan secara langsung. Artinya, angka harga yang beredar mengenai Optimus masih perlu dibedakan antara perkiraan biaya produksi, proyeksi harga, dan harga jual resmi. Ada robot yang harganya jauh lebih murah Tren menarik lainnya adalah kemunculan robot humanoid dengan harga puluhan hingga seratusan juta rupiah. Data harga yang beredar pada Juli 2026, misalnya, mencatat Unitree R1 berada pada kisaran Rp76 juta-Rp186 juta tergantung varian. Booster K1 Geek Edition mulai sekitar Rp106 juta, sedangkan Unitree G1 berada di kisaran Rp239 juta. Ada pula Noetix Bumi yang sebelumnya diperkenalkan dengan harga peluncuran sekitar Rp24,8 juta. Namun, harga tersebut tidak bisa disamakan begitu saja. Ada produk yang merupakan harga peluncuran, ada yang belum memasukkan pajak dan pengiriman, sementara model tertentu hanya bisa diperoleh melalui penawaran langsung kepada perusahaan. Karena itu, konsumen perlu berhati-hati ketika melihat klaim harga robot humanoid di internet. Harga murah tidak otomatis berarti robot tersebut memiliki kemampuan setara dengan robot kelas industri. Mengapa robot humanoid dibuat menyerupai manusia? Pertanyaan berikutnya adalah mengapa perusahaan memilih bentuk humanoid? Jawabannya berkaitan dengan lingkungan tempat manusia bekerja. Sebagian besar bangunan, kendaraan, tangga, peralatan, meja, rak, hingga berbagai perkakas dibuat berdasarkan ukuran dan kemampuan tubuh manusia. Robot dengan dua kaki dan dua tangan secara teori dapat menggunakan fasilitas yang sama tanpa perlu mengubah seluruh lingkungan kerja. Robot juga dapat dirancang untuk membawa barang, memegang peralatan, membuka pintu, berjalan melewati ruangan, dan melakukan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia. Konsep inilah yang kemudian dikenal sebagai embodied AI, yakni AI yang tidak hanya menghasilkan jawaban melalui komputer, tetapi mampu memahami lingkungan dan melakukan tindakan melalui tubuh robot. Reuters melaporkan bahwa China saat ini menjadi salah satu pusat perkembangan robot humanoid. Namun, kemampuan robot di lapangan masih memiliki banyak keterbatasan. Sejumlah robot masih bergantung pada gerakan yang sudah diprogram atau dikoreografi dan belum cukup adaptif untuk menghadapi kondisi dunia nyata yang berubah-ubah. Apakah robot benar-benar akan menggantikan manusia? Inilah bagian yang paling banyak menimbulkan kekhawatiran. Secara teori, robot humanoid memang dapat menggantikan manusia untuk sejumlah pekerjaan tertentu. Terutama pekerjaan yang bersifat repetitif, berbahaya, membutuhkan tenaga fisik, atau harus dilakukan dalam waktu lama. Misalnya pekerjaan memindahkan barang di gudang, inspeksi tertentu di fasilitas industri, pekerjaan di lingkungan berbahaya, hingga sejumlah aktivitas di lini produksi. Tetapi menggantikan seluruh pekerja manusia merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks. Robot harus mampu memahami situasi yang tidak terduga. Ketika sebuah benda berubah posisi, seseorang tiba-tiba lewat, lantai menjadi licin, barang terjatuh, atau instruksi berubah di tengah pekerjaan, robot harus mampu mengambil keputusan dengan cepat dan aman. Kemampuan seperti ini masih menjadi tantangan besar. Reuters bahkan melaporkan bahwa robot humanoid China yang terlihat sangat mengesankan dalam demonstrasi dan kompetisi masih menghadapi masalah ketika masuk ke lingkungan kerja sebenarnya. Keterbatasan ketangkasan tangan, kecerdasan, kecepatan adaptasi, dan keandalan membuat robot belum dapat begitu saja menggantikan pekerja manusia di pabrik. Penjualan meningkat, tetapi penggunaannya masih terbatas Pertumbuhan penjualan juga belum berarti robot humanoid sudah siap digunakan secara massal. Unitree menjadi salah satu contoh menarik. Perusahaan tersebut mencatat pertumbuhan besar dan mendapat perhatian investor setelah melantai di bursa China pada 2026. Reuters menyebut Unitree menjadi perusahaan robot humanoid pertama yang melakukan pencatatan saham di China daratan. Namun, tingginya minat terhadap industri robot tidak otomatis menunjukkan bahwa semua produk sudah matang. Laporan Reuters pada akhir Agustus 2026 bahkan menyoroti adanya kesenjangan antara ambisi industri dengan kemampuan robot saat ini. Sejumlah robot masih mengalami masalah teknis dan belum memiliki fleksibilitas seperti manusia ketika menghadapi pekerjaan nyata. Dengan kata lain, industri robot humanoid memang berkembang pesat, tetapi teknologi tersebut masih berada dalam tahap awal. Robot mungkin tidak menghapus pekerjaan, tetapi mengubahnya Kehadiran robot humanoid lebih realistis dilihat sebagai perubahan struktur pekerjaan daripada sekadar penghapusan pekerjaan manusia. Pekerjaan yang sangat repetitif kemungkinan menjadi sektor pertama yang mengalami otomatisasi. Sebaliknya, permintaan terhadap tenaga manusia yang mampu mengoperasikan, memprogram, merawat, mengawasi, dan mengembangkan robot justru berpotensi meningkat. Hal ini sama seperti perkembangan komputer dan otomatisasi industri pada masa lalu. Teknologi memang menghilangkan beberapa jenis pekerjaan, tetapi pada saat yang sama menciptakan profesi baru. Di masa depan, seseorang mungkin tidak lagi bekerja sebagai operator mesin secara langsung, tetapi menjadi pengawas armada robot. Teknisi robot, engineer AI, spesialis keselamatan robot, pengembang sistem kendali, hingga pelatih data robot juga berpotensi menjadi pekerjaan yang semakin penting. Masa depan robot humanoid masih panjang Perkembangan robot humanoid tidak bisa dilepaskan dari perkembangan AI. Semakin baik kemampuan AI memahami bahasa, gambar, suara, lingkungan, dan konteks, semakin besar pula kemungkinan robot dapat melakukan pekerjaan yang lebih kompleks. Namun, kemampuan software harus diimbangi kemampuan hardware. Robot harus memiliki baterai yang mampu bertahan lama, motor yang kuat, sensor yang akurat, tangan yang cukup fleksibel, sistem keselamatan yang andal, serta kemampuan bergerak tanpa membahayakan manusia di sekitarnya. Unitree sendiri mencantumkan sejumlah fitur berbasis imitation learning dan reinforcement learning pada G1. Robot tersebut memiliki 23 hingga 43 joint motor tergantung konfigurasi dan masa penggunaan baterainya sekitar dua jam. Unitree juga mengingatkan bahwa industri humanoid masih berada pada tahap awal eksplorasi dan sejumlah fungsi masih dalam pengembangan atau pengujian. Fakta tersebut menunjukkan bahwa robot humanoid saat ini memang semakin canggih, tetapi belum bisa dianggap sebagai pengganti manusia secara penuh. Jadi, apakah manusia akan digantikan? Jawabannya belum. Robot humanoid memang berpotensi mengambil alih sebagian pekerjaan manusia, khususnya pekerjaan fisik yang berulang dan berisiko. Namun, teknologi saat ini masih menghadapi persoalan besar dalam hal kecerdasan, ketangkasan, daya tahan, keamanan, dan biaya. Yang lebih mungkin terjadi dalam waktu dekat adalah manusia dan robot bekerja berdampingan. Robot mengerjakan tugas yang membutuhkan kekuatan, ketelitian, atau pekerjaan berulang. Sementara manusia tetap menangani pekerjaan yang membutuhkan kreativitas, empati, komunikasi kompleks, pengambilan keputusan, dan kemampuan menghadapi situasi yang tidak terduga. Dengan harga robot yang semakin turun dan kemampuan AI yang terus berkembang, satu hal sudah jelas: robot humanoid bukan lagi sekadar konsep dalam film fiksi ilmiah. Mereka sudah menjadi produk nyata. Pertanyaannya bukan lagi apakah robot akan masuk ke dunia kerja, tetapi seberapa cepat teknologi tersebut menjadi cukup murah, aman, dan pintar untuk digunakan secara massal. Dan ketika titik tersebut tercapai, perubahan terbesar mungkin bukan manusia kehilangan seluruh pekerjaannya, melainkan cara manusia bekerja yang akan berubah secara drastis. Navigasi pos Solusi Mencegah Kebangkrutan Dini Bisnis Mikro OJK Tutup 13 Bank September 2026, Ini Daftar Lengkapnya