Gen Z China Pilih Camilan Kenyal dan Hambar untuk Turunkan Berat Badan

Internasional,- Tren diet di kalangan anak muda China kembali menjadi perhatian. Jika selama ini program penurunan berat badan identik dengan makanan rendah kalori, memperbanyak sayuran, atau mengurangi konsumsi makanan manis, kini muncul pendekatan yang berbeda.

Sejumlah anak muda justru memilih makanan yang memiliki tekstur keras, alot, atau membutuhkan waktu cukup lama untuk dikunyah. Bagi mereka, rasa makanan bukan lagi menjadi pertimbangan utama. Hal yang lebih penting adalah berapa lama makanan tersebut bisa membuat mulut tetap sibuk.

Fenomena ini ramai diperbincangkan di media sosial China dan kemudian mendapat perhatian media internasional. Beberapa makanan yang disebut dalam tren tersebut antara lain dendeng sapi, roti beku, biskuit bayi untuk tumbuh gigi, hingga makanan tradisional dengan tekstur sangat keras.

Bukan Sekadar Menghitung Kalori

Selama bertahun-tahun, menghitung kalori menjadi salah satu pendekatan populer dalam upaya mengendalikan berat badan. Namun, tren yang berkembang di media sosial China menunjukkan adanya perubahan cara sebagian pelaku diet dalam memandang camilan.

Mereka tidak hanya mencari makanan yang memiliki jumlah kalori rendah, tetapi juga makanan yang membutuhkan banyak kunyahan.

Logikanya cukup sederhana. Makanan yang alot membuat seseorang tidak bisa langsung menghabiskannya dalam beberapa gigitan. Waktu makan menjadi lebih panjang sehingga mulut tetap aktif dan perhatian terhadap keinginan ngemil dapat teralihkan.

Sebagian pelaku tren tersebut bahkan menganggap semakin keras dan sulit dikunyah sebuah makanan, semakin menarik makanan itu sebagai camilan ketika sedang menjalani diet.

Namun, persepsi tersebut merupakan pengalaman atau keyakinan dari para pelaku tren, bukan berarti semua makanan keras atau kenyal secara otomatis efektif menurunkan berat badan.

Dendeng hingga Roti Beku

Beberapa jenis makanan yang menjadi perhatian dalam tren ini sebenarnya bukan makanan baru.

Dendeng sapi, misalnya, sudah lama dikenal sebagai makanan yang membutuhkan proses mengunyah lebih lama dibandingkan makanan dengan tekstur lembut. Dalam tren tersebut, dendeng tanpa banyak tambahan bahan menjadi salah satu pilihan camilan.

Selain itu, terdapat pula roti atau bakpao yang dibekukan. Tekstur makanan yang berubah menjadi lebih keras membuat konsumen membutuhkan waktu lebih lama untuk mengunyahnya.

Biskuit yang diperuntukkan bagi bayi yang sedang tumbuh gigi juga disebut dalam sejumlah laporan mengenai tren tersebut. Produk semacam ini memang dirancang dengan tekstur tertentu agar dapat digenggam dan dikunyah oleh bayi yang sudah memasuki tahap makanan padat. Karena itu, penggunaan produk tersebut oleh orang dewasa sebagai bagian dari tren diet perlu dipandang secara hati-hati.

Ada yang Memilih Makanan Tradisional

Fenomena tersebut ternyata tidak hanya membuat makanan modern menjadi perhatian. Sejumlah makanan tradisional China yang dikenal memiliki tekstur keras juga kembali dibicarakan.

Salah satunya adalah kue keras dari Zhoushan, Provinsi Zhejiang. Makanan berbahan dasar beras ketan tersebut secara historis dikenal memiliki tekstur yang sangat keras dan pernah digunakan sebagai makanan yang tahan disimpan untuk perjalanan.

Makanan tradisional lain dengan tekstur padat dan kenyal juga mendapatkan perhatian karena dianggap sesuai dengan konsep diet tersebut.

Dengan demikian, tren ini bukan semata-mata mengenai jenis makanan tertentu. Yang dicari adalah pengalaman mengunyah dalam waktu yang relatif lama.

Mengapa Camilan Kenyal Dianggap Bisa Membantu?

Para pelaku tren ini memiliki alasan yang relatif sederhana: mereka ingin tetap mendapatkan aktivitas mengunyah tanpa terlalu banyak mengonsumsi makanan.

Saat seseorang menginginkan camilan, keinginan tersebut terkadang bukan hanya berkaitan dengan kebutuhan energi. Ada pula dorongan untuk melakukan aktivitas makan, terutama ketika sedang bekerja, belajar, atau merasa bosan.

Makanan dengan tekstur keras kemudian digunakan sebagai cara untuk membuat mulut tetap sibuk.

Salah seorang pengguna media sosial yang dikutip dalam laporan SCMP mengatakan dirinya tetap berolahraga, tetapi mengalami kesulitan mengendalikan keinginan makan. Ia kemudian memilih camilan yang membutuhkan banyak kunyahan agar bisa tetap fokus bekerja tanpa terlalu banyak mengonsumsi makanan.

Ada pula pengguna yang memilih dangshen, tanaman yang dalam pengobatan tradisional China memiliki penggunaan tertentu. Selain itu, beberapa orang mengonsumsi dendeng tanpa tambahan bahan tertentu maupun permen karet bebas gula.

Bahkan Ada yang Mengunyah Stik Anjing

Salah satu bagian paling ekstrem dari fenomena ini adalah pengakuan seorang pengguna media sosial yang mengaku mengunyah stik kunyah yang diperuntukkan bagi anjing.

Menurut laporan yang beredar, aktivitas tersebut dilakukan untuk membantu mengatasi kecemasan ketika menghadapi ujian. Pengguna tersebut bahkan mengaku dapat menghabiskan waktu hingga sekitar dua jam untuk satu stik.

Namun, pengalaman tersebut tentu tidak dapat dijadikan rekomendasi kesehatan.

Produk yang dibuat untuk hewan memiliki formulasi, standar keamanan, dan tujuan penggunaan yang berbeda dari makanan manusia. Karena itu, mengikuti perilaku ekstrem semacam ini justru berpotensi menimbulkan masalah kesehatan dan tidak seharusnya dianggap sebagai metode diet.

Media Sosial Ikut Mendorong Tren

Kemunculan tren tersebut juga memperlihatkan bagaimana media sosial dapat memengaruhi cara masyarakat memandang makanan.

Penelitian mengenai lingkungan digital makanan di China menunjukkan bahwa platform digital dan media sosial memiliki peran besar dalam bagaimana makanan dipromosikan dan mendapatkan perhatian. Konten makanan dapat menggunakan berbagai daya tarik, termasuk suara ketika mengunyah, tekstur, pengalaman sensorik, hingga topik yang sedang tren.

Hal ini membuat makanan dengan karakteristik tertentu dapat dengan cepat mendapatkan perhatian ketika dikemas sebagai bagian dari gaya hidup atau tantangan baru.

Di sisi lain, laporan Mintel mengenai tren camilan China 2026 juga menunjukkan bahwa konsumen semakin mengaitkan camilan dengan kebutuhan atau situasi tertentu, termasuk keinginan untuk mengendalikan asupan.

Artinya, camilan tidak lagi hanya dipandang sebagai makanan untuk memuaskan keinginan makan. Bagi sebagian konsumen, camilan juga mulai dikaitkan dengan fungsi tertentu, seperti menemani pekerjaan, aktivitas fisik, atau upaya mengatur pola konsumsi.

Apakah Makanan Alot Benar-Benar Bisa Menurunkan Berat Badan?

Pertanyaan ini menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.

Mengunyah lebih lama memang dapat membuat proses makan menjadi lebih panjang. Akan tetapi, hal tersebut tidak berarti makanan yang keras atau kenyal otomatis menyebabkan berat badan turun.

Penurunan berat badan pada dasarnya berkaitan dengan keseimbangan energi dalam jangka waktu tertentu, selain berbagai faktor lain seperti pola makan secara keseluruhan, aktivitas fisik, kondisi kesehatan, tidur, dan kebiasaan sehari-hari.

Karena itu, mengganti makanan dengan camilan keras tanpa memperhatikan kandungan gizinya bukanlah strategi yang dapat dianggap sebagai solusi tunggal.

Sebagai contoh, dendeng dapat memiliki kandungan protein, tetapi produk tertentu juga dapat mengandung garam atau bahan tambahan dalam jumlah cukup tinggi. Begitu pula biskuit bayi tidak dirancang sebagai makanan diet untuk orang dewasa.

Dengan kata lain, tekstur makanan tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran apakah makanan tersebut baik untuk program pengendalian berat badan.

Jangan Sampai Mengejar Tekstur, Nutrisi Justru Terlupakan

Tren diet yang viral di media sosial memang menarik untuk diamati. Namun, ada risiko ketika seseorang hanya mengikuti aspek yang paling unik tanpa memahami konteksnya.

Makanan yang membutuhkan banyak kunyahan belum tentu memiliki kandungan protein, serat, vitamin, mineral, dan zat gizi lain yang mencukupi.

Padahal, pola makan yang seimbang tetap membutuhkan variasi makanan.

Jika seseorang sedang berusaha menurunkan berat badan, perhatian sebaiknya tidak hanya diarahkan pada seberapa lama sebuah makanan dikunyah. Kandungan gizi, ukuran porsi, kualitas makanan, kebutuhan energi, serta pola hidup secara keseluruhan juga perlu diperhitungkan.

Tren camilan kenyal di kalangan anak muda China pada akhirnya menunjukkan perubahan menarik dalam budaya diet. Dari yang sebelumnya berfokus pada angka kalori, sebagian pelaku diet kini mencari pengalaman makan yang dapat membantu mereka mengendalikan keinginan ngemil.

Fenomena ini mungkin terlihat sederhana karena hanya berkaitan dengan makanan keras dan alot. Namun, di baliknya terdapat perubahan perilaku konsumen, pengaruh media sosial, serta keinginan anak muda untuk menemukan cara baru dalam mengatur pola makan.

Meski demikian, makanan yang sedang viral tidak selalu berarti cocok untuk semua orang. Terutama untuk metode yang ekstrem, pendekatan tersebut sebaiknya tidak ditiru begitu saja tanpa mempertimbangkan keamanan dan kebutuhan tubuh.

Pada akhirnya, menurunkan berat badan bukan sekadar persoalan memilih makanan yang paling lama dikunyah, melainkan bagaimana membangun pola makan dan gaya hidup yang seimbang serta dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *