Genap Dua Tahun Prabowo-Gibran, Demonstrasi di Jakarta Diwarnai Aksi Simbolis

Trending,– Peringatan dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka diwarnai demonstrasi mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil di sejumlah titik di Jakarta pada Selasa, 20 Oktober 2026. Berbagai aksi simbolis mewarnai penyampaian aspirasi, mulai dari acungan tiga jari sebagai bentuk protes hingga pembakaran replika keranda bertuliskan “Kemanusiaan”.

Aksi tersebut menjadi bagian dari evaluasi publik terhadap perjalanan pemerintahan Prabowo-Gibran sejak dilantik pada 20 Oktober 2024. Sejumlah demonstran menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah, terutama terkait penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kondisi ekonomi, program pemerintah, serta perlindungan hak-hak masyarakat.

Dua aksi yang menyita perhatian berlangsung di kawasan Tugu Tani dan Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Para peserta membawa spanduk, poster, dan simbol-simbol yang digunakan untuk menyampaikan kritik terhadap kinerja pemerintah selama dua tahun terakhir.

1. Mahasiswa Angkat Tiga Jari sebagai Simbol Perlawanan

Salah satu momen yang menjadi perhatian dalam demonstrasi di Jakarta adalah ketika mahasiswa mengacungkan tiga jari secara serentak. Aksi tersebut terlihat dalam demonstrasi yang berlangsung di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat.

Demonstrasi ini melibatkan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi bersama elemen masyarakat sipil yang tergabung dalam Komite Sadar atau Seruan Kedaulatan Rakyat. Massa mulai berkumpul di lokasi pada Selasa sore dan menyampaikan aspirasi melalui orasi dari mobil komando.

Koordinator Sosial dan Politik Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Hafidz Hernanda, mengajak para peserta mengangkat tiga jari sebagai simbol kritik terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.

Dalam orasinya, Hafidz menyampaikan bahwa gestur tersebut merepresentasikan kemarahan, kekecewaan, dan perlawanan masyarakat terhadap pemimpin yang dinilai gagal memenuhi harapan rakyat.

Acungan tiga jari atau three-finger salute bukanlah simbol yang sepenuhnya baru dalam gerakan politik. Gestur ini dikenal luas melalui waralaba film The Hunger Games, yang menggambarkan perlawanan masyarakat terhadap kekuasaan yang dianggap menindas.

Dalam berbagai aksi di dunia nyata, simbol tersebut kemudian digunakan untuk menyampaikan solidaritas dan penolakan terhadap kebijakan atau kekuasaan tertentu. Maknanya dapat berbeda-beda, bergantung pada konteks gerakan yang menggunakannya.

Dalam demonstrasi di Tugu Tani, para mahasiswa menggunakan gestur tersebut untuk menegaskan sikap kritis terhadap perjalanan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

Momen ini turut menarik perhatian karena pesan politik disampaikan melalui simbol sederhana yang mudah dikenali dan berpotensi menyebar luas melalui foto maupun video di media sosial.

2. Kritik terhadap Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan

Selain mengangkat tiga jari, demonstran di kawasan Tugu Tani juga membawa berbagai spanduk dan poster berisi kritik terhadap pemerintah.

Salah satu isu utama yang disorot adalah kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Persoalan tersebut menjadi perhatian karena dampaknya tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, dan kehidupan ekonomi.

Sejumlah peserta aksi mendesak pemerintah mengambil langkah lebih tegas dalam menangani karhutla. Mereka juga menyoroti dampak asap yang mengganggu masyarakat di wilayah terdampak.

Kritik tersebut tercermin dalam sejumlah pesan yang dibawa demonstran, termasuk tuntutan agar pemerintah bertanggung jawab atas persoalan lingkungan dan memperkuat penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti menyebabkan kerusakan.

Selain persoalan lingkungan, massa juga menyampaikan kritik terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan pemerintah yang dinilai perlu dievaluasi.

Tuntutan tersebut memperlihatkan bahwa demonstrasi tidak hanya berpusat pada penilaian terhadap figur presiden dan wakil presiden. Aksi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan persoalan yang mereka anggap belum mendapatkan penyelesaian memadai.

Bagi para demonstran, peringatan dua tahun pemerintahan merupakan momentum untuk mempertanyakan sejauh mana kebijakan negara telah menjawab kebutuhan masyarakat.

3. Keranda Bertuliskan “Kemanusiaan” Dibakar di Medan Merdeka Selatan

Aksi simbolis lainnya berlangsung di kawasan Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat. Ratusan mahasiswa Universitas Jayabaya menggelar demonstrasi di depan gedung Bank Syariah Indonesia (BSI) Tower pada Selasa petang.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa replika keranda yang bertuliskan “Kemanusiaan”. Properti itu digunakan sebagai simbol kritik terhadap situasi yang mereka soroti dalam peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.

Berdasarkan laporan RMOL pada Selasa, 20 Oktober 2026, massa masih bertahan di lokasi hingga sekitar pukul 18.00 WIB. Para peserta telah menyampaikan orasi selama kurang lebih dua jam.

Situasi sempat memanas ketika sebagian demonstran membakar replika keranda tersebut. Petugas kepolisian kemudian berupaya memadamkan api menggunakan alat pemadam api ringan atau APAR.

Upaya pemadaman itu memicu ketegangan antara petugas dan peserta aksi. Sejumlah demonstran dilaporkan tidak menginginkan api dipadamkan, sementara polisi berusaha menghentikan pembakaran.

Aksi saling dorong pun terjadi di tengah situasi tersebut.

Pembakaran replika keranda menjadi salah satu gambaran bagaimana demonstran menggunakan simbol visual yang kuat untuk menarik perhatian publik. Dalam sebuah demonstrasi, benda-benda simbolis kerap dipilih untuk menggambarkan pesan protes secara langsung, tanpa harus bergantung sepenuhnya pada orasi.

Meski demikian, makna simbol tersebut perlu dipahami berdasarkan konteks dan penjelasan pihak yang menggunakannya. Keranda bertuliskan “Kemanusiaan” dalam aksi ini merupakan properti demonstrasi, bukan laporan mengenai adanya korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

4. Program Makan Bergizi Gratis Ikut Menjadi Sasaran Kritik

Selain isu lingkungan dan ekonomi, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi salah satu kebijakan yang disorot dalam demonstrasi.

Dalam aksi di depan BSI Tower, mahasiswa menyampaikan tuntutan agar program tersebut dihentikan. Tuntutan ini memperlihatkan adanya kritik terhadap pelaksanaan kebijakan pemerintah yang menjadi salah satu program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran.

Namun, tuntutan demonstran merupakan bentuk sikap politik peserta aksi dan tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa seluruh masyarakat memiliki pandangan yang sama.

Penilaian terhadap program publik perlu mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari tujuan kebijakan, kualitas pelaksanaan, penggunaan anggaran, pengawasan, hingga dampaknya terhadap kelompok penerima manfaat.

Karena itu, kritik yang disampaikan mahasiswa dapat dipandang sebagai bagian dari dorongan agar pemerintah memberikan penjelasan dan evaluasi secara terbuka terhadap program-program yang dijalankan.

Dalam sistem demokrasi, kebijakan pemerintah memang dapat menjadi objek kritik dan perdebatan publik. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk menjelaskan dasar kebijakan, hasil pelaksanaan, serta langkah perbaikan apabila ditemukan persoalan.

5. Pengamanan Demonstrasi Diperketat di Sejumlah Titik Jakarta

Demonstrasi peringatan dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran tidak hanya berlangsung di satu lokasi. Sejumlah titik di Jakarta menjadi tempat penyampaian aspirasi masyarakat, termasuk kawasan Tugu Proklamasi, Tugu Tani, Monumen Nasional (Monas), dan Gedung DPR/MPR.

Laporan Parade.id menyebutkan bahwa Polda Metro Jaya mencatat 52 kegiatan masyarakat di wilayah hukumnya pada 20 Oktober 2026. Dari jumlah tersebut, 26 kegiatan merupakan penyampaian pendapat di muka umum.

Untuk mengamankan rangkaian kegiatan, sebanyak 9.505 personel gabungan TNI-Polri dikerahkan. Langkah pengamanan tersebut dilakukan di tengah berlangsungnya berbagai kegiatan masyarakat dan demonstrasi di ibu kota.

Kehadiran aparat menjadi bagian dari upaya menjaga ketertiban selama massa menyampaikan aspirasi. Di sisi lain, pengamanan demonstrasi juga perlu memperhatikan hak masyarakat untuk berkumpul dan menyampaikan pendapat secara damai.

Pengaturan lalu lintas menjadi perhatian tersendiri karena sejumlah titik demonstrasi berada di kawasan dengan aktivitas kendaraan yang padat. Massa yang berkumpul di sekitar jalan utama berpotensi memengaruhi kelancaran perjalanan warga.

Meski demikian, setiap situasi di lapangan perlu dinilai berdasarkan laporan dari lokasi masing-masing. Tidak semua titik demonstrasi mengalami kondisi yang sama, sehingga gambaran mengenai keseluruhan aksi tidak dapat hanya didasarkan pada satu kejadian.

6. Dua Tahun Pemerintahan Menjadi Momentum Evaluasi Publik

Tanggal 20 Oktober 2026 menandai dua tahun sejak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dilantik sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2024.

Momentum tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menilai arah kebijakan pemerintah sekaligus menyampaikan harapan terhadap periode kepemimpinan berikutnya.

Demonstrasi di Jakarta memperlihatkan bahwa sebagian kelompok mahasiswa dan masyarakat sipil masih memiliki sejumlah catatan terhadap kebijakan pemerintah. Isu yang mereka angkat mencakup lingkungan, ekonomi, program sosial, hingga akuntabilitas penyelenggaraan negara.

Di tengah berbagai tuntutan tersebut, pemerintah menghadapi tantangan untuk memastikan bahwa kebijakan yang dijalankan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Persoalan yang menjadi perhatian publik juga membutuhkan penanganan yang terukur, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, demonstrasi merupakan salah satu saluran bagi masyarakat untuk menyampaikan ketidakpuasan dan meminta perubahan. Penyampaian aspirasi secara damai perlu mendapat ruang, sedangkan tindakan yang berpotensi membahayakan keselamatan tetap perlu ditangani sesuai ketentuan yang berlaku.

Perbedaan pandangan antara pemerintah dan kelompok pengkritik merupakan bagian dari dinamika kehidupan demokrasi. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana kritik tersebut ditindaklanjuti melalui dialog, evaluasi kebijakan, serta langkah nyata untuk menjawab persoalan yang disampaikan masyarakat.

7. Simbol Tiga Jari dan Keranda Terbakar Jadi Gambaran Kritik terhadap Pemerintah

Rangkaian demonstrasi pada 20 Oktober 2026 menunjukkan beragam cara yang digunakan mahasiswa dan masyarakat sipil untuk menyampaikan aspirasi. Acungan tiga jari di Tugu Tani menjadi simbol protes, sementara pembakaran replika keranda bertuliskan “Kemanusiaan” di Medan Merdeka Selatan menjadi salah satu peristiwa yang menarik perhatian.

Kedua aksi tersebut berlangsung dalam konteks yang sama, yakni evaluasi terhadap dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Meski menggunakan bentuk ekspresi yang berbeda, keduanya menjadi bagian dari rangkaian penyampaian kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Peristiwa tersebut sekaligus memperlihatkan pentingnya komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Aspirasi yang muncul di ruang publik perlu didengar dan ditanggapi secara proporsional, sedangkan penilaian terhadap kinerja pemerintah sebaiknya didukung data yang dapat diperiksa.

Pada akhirnya, peringatan dua tahun pemerintahan bukan hanya tentang perjalanan waktu sejak pelantikan. Momentum ini juga menjadi kesempatan untuk melihat kembali capaian, persoalan yang belum terselesaikan, serta harapan masyarakat terhadap arah pembangunan Indonesia.

Demonstrasi di Jakarta menjadi pengingat bahwa evaluasi terhadap pemerintahan tidak hanya berlangsung melalui lembaga formal, tetapi juga melalui partisipasi masyarakat dalam kehidupan demokrasi.

Catatan redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan laporan media yang terbit pada 20 Oktober 2026. Pernyataan mengenai tuntutan dan simbol aksi disajikan sebagai sikap para demonstran, bukan sebagai kesimpulan independen mengenai kinerja pemerintah secara keseluruhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *