DBS Proyeksikan Harga Emas Dunia Tembus US$5.300 per TroyOns

Ekonomi Bisnis,- Prospek harga emas dunia dinilai masih sangat menjanjikan dalam beberapa tahun ke depan. PT Bank DBS Indonesia memperkirakan logam mulia tersebut masih memiliki ruang penguatan yang cukup besar hingga mampu menembus kisaran US$5.000 hingga US$5.300 per troy ons dalam jangka panjang.

Proyeksi tersebut disampaikan oleh Head of Investment and Insurance Product DBS Indonesia, Djoko Soelistyo, dalam kegiatan media briefing di Hotel Mulia, Jakarta, Rabu (15/7/2026). Menurutnya, pandangan tersebut merupakan hasil analisis tim Chief Investment Office (CIO) DBS yang masih melihat emas sebagai salah satu aset dengan prospek paling menarik di tengah berbagai ketidakpastian ekonomi global.

“Jangka panjangnya, CIO kami masih melihat emas itu masih mempunyai potensi untuk kembali naik ke level 5 ribuan, sekitar US$5.000 sampai US$5.300 per troy ons,” ujar Djoko.

Harga Emas Masih Berpotensi Menguat

Optimisme DBS muncul di tengah kondisi pasar global yang masih dibayangi berbagai risiko, mulai dari konflik geopolitik, ketidakpastian ekonomi, hingga perubahan kebijakan moneter di berbagai negara.

Pada perdagangan internasional sebelumnya, harga emas dunia tercatat berada di kisaran US$4.063,78 per troy ons, setelah mengalami kenaikan sekitar 1,6 persen. Meski sempat mengalami fluktuasi, tren jangka panjang dinilai masih menunjukkan arah penguatan.

Menurut DBS, dalam jangka pendek harga emas memang masih akan bergerak naik turun mengikuti perkembangan situasi global. Namun apabila ketidakpastian ekonomi terus berlangsung, emas diperkirakan tetap menjadi salah satu instrumen investasi yang paling diminati.

Konflik Geopolitik Masih Menjadi Faktor Utama

Selama ini emas dikenal sebagai safe haven, yaitu aset yang biasanya diburu investor ketika kondisi ekonomi maupun politik dunia sedang tidak menentu.

Namun, Djoko menilai situasi saat ini sedikit berbeda dibandingkan konflik-konflik sebelumnya. Perhatian investor tidak hanya tertuju pada emas, tetapi juga pada sektor energi karena konflik global kali ini banyak melibatkan negara-negara produsen minyak.

Akibatnya, harga minyak ikut mengalami volatilitas tinggi sehingga sebagian investor memilih mengalihkan dana ke sektor energi terlebih dahulu sebelum kembali masuk ke pasar emas ketika kondisi mulai stabil.

Meski demikian, DBS menilai fenomena tersebut hanya bersifat sementara. Dalam jangka panjang, emas diperkirakan tetap menjadi pilihan utama sebagai instrumen perlindungan nilai.

Pelemahan Nilai Mata Uang Dorong Minat Investasi Emas

Selain faktor geopolitik, DBS juga menyoroti meningkatnya penerbitan surat utang pemerintah di berbagai negara.

Penerbitan obligasi dalam jumlah besar menyebabkan likuiditas global terus bertambah. Semakin banyak uang beredar di pasar, semakin besar pula tekanan terhadap nilai mata uang fiat.

Dalam kondisi seperti itu, investor umumnya mencari aset yang memiliki nilai intrinsik lebih kuat untuk menjaga daya beli kekayaannya. Salah satu pilihan utama adalah emas.

DBS menilai fenomena tersebut berpotensi meningkatkan permintaan emas secara bertahap ketika kondisi ekonomi mulai lebih kondusif.

Pasokan Emas Dinilai Semakin Terbatas

Faktor lain yang ikut menopang prospek harga emas adalah sisi pasokan.

Menurut DBS, dalam beberapa tahun terakhir industri pertambangan menghadapi tantangan yang cukup besar, mulai dari meningkatnya biaya produksi akibat mahalnya energi hingga minimnya penemuan cadangan emas baru.

Kondisi tersebut membuat pasokan emas diperkirakan tidak akan bertambah secara signifikan dalam waktu dekat.

Apabila permintaan investasi terus meningkat sementara suplai relatif terbatas, maka hukum pasar menunjukkan harga emas berpotensi naik lebih tinggi.

Bank Investasi Global Juga Optimistis

Pandangan positif terhadap emas bukan hanya datang dari DBS.

Sejumlah lembaga keuangan internasional juga masih mempertahankan proyeksi optimistis terhadap harga logam mulia tersebut, meskipun terdapat perbedaan target harga.

UBS, misalnya, memangkas proyeksi harga emas menjadi sekitar US$5.500 per troy ons untuk 2026, namun angka tersebut tetap mencerminkan keyakinan bahwa emas masih memiliki prospek kenaikan dibandingkan posisi saat ini.

Sementara itu, sebelumnya JP Morgan bahkan pernah memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai level yang lebih tinggi apabila ketidakpastian global terus meningkat.

Perbedaan target tersebut menunjukkan bahwa lembaga investasi memiliki asumsi masing-masing mengenai kondisi ekonomi global, namun mayoritas masih sepakat bahwa tren jangka panjang emas tetap positif.

Investor Tetap Perlu Waspada

Meskipun prospek emas dinilai cerah, investor tetap diingatkan agar tidak hanya berpatokan pada satu proyeksi.

Harga emas tetap dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti:

  • Kebijakan suku bunga bank sentral, terutama Federal Reserve AS.
  • Pergerakan nilai dolar Amerika Serikat.
  • Kondisi geopolitik global.
  • Tingkat inflasi.
  • Permintaan industri dan investasi.
  • Kondisi pasokan dari sektor pertambangan.

Apabila ketegangan geopolitik mereda lebih cepat atau bank sentral mengambil kebijakan moneter yang berbeda dari perkiraan pasar, harga emas juga dapat mengalami koreksi dalam jangka pendek.

Karena itu, investasi emas sebaiknya tetap disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing investor.

Prospek Jangka Panjang Masih Positif

Terlepas dari potensi fluktuasi harian, DBS tetap menilai emas sebagai salah satu aset yang memiliki fundamental kuat untuk jangka panjang.

Kombinasi antara meningkatnya ketidakpastian global, bertambahnya likuiditas di pasar keuangan, potensi pelemahan mata uang fiat, serta keterbatasan pasokan emas menjadi alasan utama mengapa harga logam mulia diperkirakan masih memiliki ruang penguatan.

Jika berbagai faktor tersebut terus bertahan dalam beberapa tahun ke depan, target harga di kisaran US$5.000 hingga US$5.300 per troy ons bukanlah sesuatu yang mustahil menurut analisis DBS.

Bagi investor, proyeksi tersebut menjadi sinyal bahwa emas masih berpotensi memainkan peran penting sebagai instrumen diversifikasi portofolio sekaligus pelindung nilai di tengah dinamika ekonomi global yang belum sepenuhnya stabil.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *